Do All Lives Matter ?
25 Mei 2020, Goerge Floyd meninggal saat ditangkap polisi di kota Minneapolis. Kematian Floyd akibat lehernya ditindih pake dengkulnya polisi, dan Floyd bertahan dengan kondisi seperti itu selama hampir 9 menit. Floyd udah ngeluh ga bisa nafas, tapi Derek Chauvin (polisi yang ngedengkulin Floyd) ga peduli dan ga ngelepasi dengkulnya, sampai akhirnya Floyd meninggal.
(sumber kronologis; https://www.nytimes.com/2020/05/31/us/george-floyd-investigation.html)
Kasus George Floyd rame banget setelah video penangkapannya tersebar di sosial media. Video yang kesebar bukan cuma dari handphone orang orang yang waktu itu melihat peristiwa itu, tapi juga dari cctv sekitar tempat kejadian. Bisa di liat di link nytimes di atas tadi. Terus jadi rame dan banyak kecaman dari orang orang di sosial media. 26 Mei orang orang di Minneapolis mulai demo, dan berkembang sampai di beberapa negara. Aksi #BlackLivesMatter
yang mana itu adalah gerakan melawan kekerasan terhadap komunitas kulit
hitam di Amerika Serikat, udah nge-influence orang di banyak negara buat berpartisipasi meramaikan kampanye anti-violance and anti-racism. Pembunuhan terhadap ras kulit hitam bukan kali ini aja. Ada nama nama Breonna Taylor, Atatiana Jefferson, Botham Jean, Philando Castile, Walter Scott, Michael Brown, Eric Garner, dan lain lain, yang juga korban kebrutalan polisi.
Orang orang mulai rame beropini di Twitter
Aku cuma bisa mantau dari sosial media dan beberapa portal berita. Temen temenku dan Artis yang aku follow di sosial media uda mulai speak up dan nyebarin kampanye #blacklivesmatter. Di Twitter bayak banget tuh yang nunjukin kalo care sama kasus Floyd. Opini, quotes, postingan soal aksi protest, seliweran di timeline. Aku juga care soal kasus diskriminasi rasial yang dialamin mas Floyd. Siapa yang ga miris liat ada orang dengan tenang sengaja nyakitin orang lain sampe orang itu ngeluh ga bisa nafas, dan sampe meninggal. Kok bisa ya polisi sebrutal itu ? Bisa aja, kalau emang dengan sengaja menyalahi penggunaan wewenang. Dan Indonesia juga punya kebrutalan aparat, dan itu dialami orang orang Papua.
Orang Papua Korban Diskriminasi Rasial Aparat Negara
Tiba tiba muncul twit Veronica Koman, pegiat HAM dan aktivis isu Papua, yang me-relevansi-kan Black Lives Matter dengan isu di Papua. Dia bilang, waktu ada pengepungan asrama mahasiswa Papua di Yogyakarta, Obby Kogoya juga diperlakukan semena mena oleh aparat. Semenjak itu aku mulai cari tau diskriminasi rasial yang dialami orang orang Papua.
Dan bener aja. Orang orang Papua juga mengalami kekerasan dan perampasan hak asasi. Dan kasusnya udah banyak juga. Aku mulai baca sejarah tentang Papua, dari buka web http://papuaweb.org/, https://suarapapua.com/, https://www.komnasham.go.id/, https://www.amnesty.id/ dan nge-compare dengan berita dari portal berita nasional lainnya. Biar dapet pandangan ga cuman dari satu sisi aja. Aku juga nonton forum diskusi dengan orang Papua diacara Mata Najwa (episode Nyala Papua dan Masa Depan Papua) dan Indonesia Lawyers Club (ILC). Kasus kekerasan dan pelanggaran HAM terhadap orang Papua (diatas tahun 2000an) diantaranya ;
2000;
Penyerangan MAPOLSEK ABEPURA
2001; WASIOR BERDARAH
2003; WAMENA
2008;
Penembakan OPINUS TABUNI
2009;
Pembunuhan YAWAN WAYENI
2012;
Penembakan MAKO TABUNI
2014; Insiden PANIAI
2016;
Kriminalisasi OBBY KOGOYA
2018, Desember; Penembakan NDUGA
2019, Agustus; bentrokan dengan
mahasiswa Papua di Surabaya dan Malang, Rusuh di Manokwari dan Sorong
Diatas baru beberapa kasus diatas tahun 2000an. Masi banyak lagi kasus yang bisa dibaca di web soal Papua yang aku cantumin tadi. Coba aja search satu satu. Gila banget. Dapet fakta fakta kasus pelanggaran HAM di Papua bikin aku nyadar, KEMANA AJA AKU SELAMA INI. Bener bener buat aku aware dengan Papua. Kasus kasus pelanggaran HAM berat di Papua banyak yang belum diselesaikan sama pemerintah. Bahkan dikasus Penembakan Nduga makan banyak korban jiwa 243 orang dan 37.000 orang harus mengungsi di daerah lain (data per 30 Desember 2020) Isu tentang Papua ini kalau diperhatikan banyak menyinggung separatisme dan kemerdekaan Papua Barat. Aku jadi rada hati hati bersuara dan memihak tentang isu Papua. Perlu banyak belajar dan mendengarkan tentang Papua. Hal yang bisa aku lakukan sekarang adalah mendengar dan belajar, juga kasih dukungan dengan mengisi petisi petisi yang uda ada.
Yang dialami orang Papua bukan hanya rasisme dalam bentuk ejekan "monyet" dan "bau" aja. Ternyata lebih kompleks. Mereka juga korban rasis dalam hal keadilan dan kesejahteraan. Bersuara STOP RASIS untuk membela saudara saudara Papua emang gada salahnya, cuman jangan lupain olokan "cinak sipit, onta arab, pembantu jawa, dll" meskipun masalah rasial lebih dialami orang orang kulit hitam. Butuh suara juga tentang kesejahteraan dan keadilan rakyat Papua.


0 comments: